Showing posts with label Cyberspace. Show all posts
Showing posts with label Cyberspace. Show all posts

Monday, 24 March 2014

Masalah - Masalah Yang Mungkin Muncul Dalam Cyberspace

Masalah - Masalah Yang Mungkin Muncul Dalam Cyberspace

 
 
     Kajian budaya atau cultural studies pertama kali muncul di Birmingham, Inggris. Salah satu perintis-nya adalah Raymond Williams. Pada perkembangan selanjutnya, kajian budaya menyebar ke Eropa. Perkembangan kajian budaya ini menjadi sangat berarti ketika kajian budaya "klasik" bertemu secara intensif dengan pemikiran postmodern. Pemikiran postmodern yang dimaksud adalah postmodernis-me sebagaimana muncul dari tradisi pemikiran kontemporer Prancis seperti Lyotard, Foucault, Derrida, Roland Barthes, dan Jean Baudrillard.
 
     Sebagai pemikir aliran postmodern yang perhatian utamanya adalah hakikat dan pengaruh komunikasi dalam masyarakat pascamodern, Baudrillard sering mengeluarkan ide-ide cukup kontroversial dan melawan kemapanan pemikiran yang ada selama ini. Misalnya dalam wacana mengenai kreativitas dalam budaya media massa atau budaya cyber ia menganggapnya sebagai sesuatu yang absurd dan contradictio in terminis. Bagi Baudrillard, televisi merupakan medan di mana orang ditarik ke dalam sebuah kebudayaan sebagai black hole. singkatnya Simulacra. Realitas yang ada adalah realitas semu, realitas buatan (hiperrealitas).
 
     Menurut Mark Slouka , sebagaimana yang ditulis Astar Hadi (2005), Gambaran dalam budaya media dan cyber space telah kehilangan daya representasi. Ini berarti para konsumen budaya media massa dan cyberspace tidak lagi berkreasi karena kehilangan dialectical capacity of representation. Baudrillard menggambarkan realitas ini melalui empat tahap: ""(1) it (image) is the reflection of the basic reality, (2) it masks and pervert a basic reality, (3) it masks the absence of the a basic reality, dan (4) it bears no relation on any reality whatever: it is its own pure simalacrum.Dari keempat tahap itu, tahap kedua adalah yang paling penting (maka Baudrillard memberi aksen): gambaran bahkan mengelabui kita sehingga kita tidak sadar lagi akan ketidakhadirannya. Gambaran dalam media massa dan cyber seperti televisi,ineternet tidak lagi kita pahami dalam kerangka semiotis signifier dan signified Tanda-petanda). Jarak keduanya lenyap, sehingga yang tinggal hanyalah sebuah pengalaman langsung. Artinya, kita seolah-olah tidak sedang menghadapi image atau gambaran tentang "realitas"" itu sendiri. Inilah yang disebut Baudrillard dengan istilah the immediate, the unsignified atau simulacrum yang berarti tiruan, imitasi, tidak nyata, tidak sesungguhnya.

     Di era milenium ketiga ini banyak kalangan merasa sangat bahagia, seolah-olah milenium ini akan membawa banyak perubahan bagi kesejahteraan kehidupan manusia. Hidup manusia seakan-akan lebih mudah karena peradaban tinggi (high civilization) melahirkan teknologi tinggi (high tech), komunikasi global (global communication), digitalisasi, cloning, rekayasa genetika, dan teknologi informatika. Secara perlahan tetapi pasti, para manusia milenium itu terlena dengan segala kemudahan hidup, buday a konsumsi yang serba instan membuat mereka lupa bahwa hidup yang mereka hadapi mulai kabur dan tenggelam dalam realitas semu. Dalam konteks budaya politik Indonesia hiperrealitas ini tampak dengan adanya budaya korupsi dan saling konflik antar-elite politik, carut marut pendidikan, layanan publik yang buruk, kekerasan aparat, pemogokan buruh, penyimpang-an kekuasaan, kolusi dan nepotisme. Dalam keseharian masyarakat perang isu dan simulacrum dalam tayangan media dianggap sebagai kebenaran.
 
     Hiperrealitas berhasil mengaburkan dunia kenyataan dan dunia semu, masyarakat dunia modern tidak bisa membedakan lagi antara kebenaran nyata dan kebenaran semu. Masyarakat kini sedang menanti kebenaran ide Baudrillard itu, bisakah manusia menghindarkan diri dari kepalsuan dan mencari makna sejati dari semua realitas yang dihadapi? Jawabannya adalah kembali kepada diri kita masing-masing dalam memaknai realitas hidup ini. Selamat datang di dunia simulacrum. Untuk itu hadirnya buku ini bisa memotret tentang jejak langkah cyber space yang sudah bertahun-tahun memporandakan dunia melalui teknologi. Tidak adanya batas-batas sosial dalam kehidupan manusia.yang muncul dunia cyaberspace dalam kehidupan menuju titik maya.
 
     Inilah realitas dunia yang harus kita hadapi di abad ke 21 ini, sebuah dunia lalu lintas informasi yang siap menghancurkan apa saja dan siapa saja yang tidak sanggup menerima laju percepatannya. Tidak salah bila kemudian Mark Slouka meramalkan di abad ke 21 ini adalah abad informasi.hal ini berarti bahwa siapapun yang mempunyai informasi,dialah akan mampu bertahan sekaligus berkembang. Disisi lain, semangan perubahan zaman cyberspace juga tidak hanya memberi manfaat dari dampak teknologi,akan tetapi juga menunjukkan pesona-pesona simulasi begitu dasyat terhadap masyarakat dan percepatan cyabernetik melalui fase-fase pasar global dan membuat manusia cyber manjadi victim di dunia maya. Tidak salah bila posmodernisme dalam masyarakat kapitalisme barat,seperti yang disindir kelompok postmodernisme mampu mengeser imperatif-imperatif lama dengan berbagai kejutan budaya,permainan bahasa,permainan citra, dan manupulasi kesadaran manusia dari eksistensi humanitasnya.
 
     Dari pemetaan masyarakat cyberspace inilah kita bisa memotret kembali perpanjangan dunia internet yang telah memberi manfaat kemajuan zaman serta membunuh manusia dari dunia. Dibalik itu semua,cyberspace pada kenyataan adalah dunia yang penuh jebakan: “sekularisme”,”Atheisme”,narsisme” atau “anarkisme”. Meskipun demikian berbagai bentuk jebakan tentunya tidak menyurutkan untuk mencari jalan keluarnya. Bukan dengan jalan menolak cyberspace,akan tetapi melalui jalan tengah yang bisa dicapai,bagiamana cyberspace ini diarahkan pada masa depan yang positif fungsi dari dunia cyberspace untuk membangun peradaban umat manusia yang lebih humanitarian.
 
 
Ditulis Oleh :

Ichsan Perdana Putra
54413193


Peran Cyberspace Sebagai Ruang Budaya Manusia

Peran Cyberspace Sebagai Ruang Budaya Manusia


     Apakah ruang cyber dan bagaimana caranya ruang itu bisa berhubungan dengan sastra, film, musik, seni, gaya hidup, politik, dan seksualitas dalam dunia postmodern (tepatnya abad informasi)? Jawabannya adalah resume ini. Pertama-tama kita cari tahu wilayah terminologisnya. Kata "ruang cyber," diciptakan oleh penulis fiksi ilmiah William Gibson pada tahun 1984, dalam novelnya Neuromancer. Ruang itu menurut pendapat Gibson mengacu pada keberadaan dunia virtual yang dibuat oleh teknologi komunikasi, yang kemudian kita kenali sebagai internet. Karena ruang ini adalah konsep filsafat, dan bukan penjelasan ilmiah dari suatu fungsi benda, maka jelas ungkapan ini mendapatkan tempat dalam debat dunia filsafat.

     Perdebatan tentang hal ini berputar pada wilayah modus baru akan pengalaman humanitarian, entah di sekitar masalah-masalah pornografi pada stereotip internet, hacking, ras dan gender, hak kebebasan berpendapat (UU ITE di Indonesia), kebebasan informasi, dan hak cipta. Sarjana sastra berdebat tentang bagaimana komputer akan mengubah karya sastra, dengan jalan editing tekstual, model membaca dan menulis, dan sifat sastra, yang terjebak dunia online. Novelis dan pembuat film mencoba membayangkan masa depan sebuah masyarakat kabel, sementara budaya perusahaan berusaha untuk mendapatkan duit pada halaman World Wide Web.

     Diskursus selanjutnya menambahkan kemunculan hal baru yang tidak disangkakan (bahkan tidak terkendali) karena diskursus dunia ini adalah diskursus mengenai eksplorasi budaya yang muncul dari ruang itu sendiri. Batas antara kehidupan riil manusia dan kehidupan buatan tidak bisa dibedakan lagi. Film yang menggunakan cyborg dengan realitas nyata, semua sama-sama imitasi, ungkap Jean Baudrillard. Semua berada dalam simulakra, atau berada dalam suatu konsep andai mengandai. Pada akhirnya tidak ada hitungan nyata, karena orang-orang sibuk berspekulasi di internet tentang peran mereka sendiri di masyarakat; yang lebih cenderung mengetengahkan hypertext dalam bentuk fiksi. Orang beraksi adalah orang menulis, semisal menulis di Facebook, atau mengomentari halaman Youtube. Inilah zaman postmodernisme, dan masa depan mengabur pada bahasa hypertext.

     Tidak ada keahlian komputer yang diperlukan. Anda hanya perlu akses ke World Wide Web. Tekniknya pun bermacam-macam, bisa lewat ponsel seharga dua keranjang bakwan. Memang sebegitu murah untuk bisa menggunakan internet bahkan untuk mereka yang kurang memiliki pengalaman sebelumnya. Setiap siswa bila tidak eksis di internet dia tidak pernah ada di kelas. Dunia semakin saling mendekati, dan saling memberitahu satu sama lain.

     Siapa Tahu? "Siapa tahu," ujar Jean-Marie Gustave Le Clezio, ketika menerima hadiah Nobel pada 2008. Jika Internet pernah ada pada masa itu, barangkali plot kriminal Hitler tidak akan pernah sukses. Menyadari kekuatan itu, demonstran Mesir Pro-Demokrasi merasa terinspirasi untuk menggalang kekuatan lewat situs jejaring sosial.

     Setelah terjadi sebuah dramatic event, munculah situs jejaring sosial bernama Facebook. Media tersebut dapat menjaring lebih dari 300 juta manusia. Sekarang, revolusi bisa lewat kabel. Maka ungkapannya bukan lagi, "Who knows?" namun, "What now?" ketika manusia terhubung dengan jutaan manusia lainnya, dalam waktu yang singkat. Media massa dalam pandangan semacam itu tidak harus berangkat dari suatu ideologi, cukup Login - Dunia yang lebar pun akan terjaring. Camkanlah pula bahwa Dunia mengecil dengan segala konsekuensinya, "its a small village", akibat teknologi Ungkap Marshall McLuhan .

     Semua ini disponsori oleh Vannevar Bush, Ted Nelson dkk, dari CERN -Pusat Riset Nuklir Eropa. Merekalah yang dengan bangga memperkenalkan kapasitas ruang <em>cyber </em>pertama yang digunakan massif oleh seluruh penduduk bumi, dan di namakan: World Wide Web -- sebuah tools komunikasi yang tidak lagi mengenal batas dan jarak. Sebuah dunia baru, yang memaksimalkan eksporasi imajinasi terhadap wilayah yang belum diketahui (Virtual Reality) , Erick P. Bucy mengatakan:

     "The web has opened up new cultural expressions" .Web telah membuka gaya baru dalam hal ekspresi kultural. Meskipun berkompetisi dengan bentuk media lain untuk merajah perbendaharaan yang ada di bumi, perbendaharaan yang tidak akan pernah bergantung dari teknologi di mana teknologi tidak lagi menarik perhatian manusia. Tanpa diragukan lagi, ketidakgantungan dari teknologi ini, tidak lain karena web sendiri lebih berharga dari sisi nilai dan isi yang ditawarkan, seberapapun kecepatan teknologi." 

     Ini bagus atau tidak? Barangkali inipun merupakan akibat, yang akan menjadi penyebab dari berakibatnya sesuatu. Maksudnya ruang ini kan tools baru komunikasi yang tentu saja merupakan revisi dari bentuk tools komunikasi yang telah ajeg seperti televisi, radio, telepon selular, dan alat komunikasi massa lain. Ada ketergantungan yang sama sebagaimana ketergantungan alat komunikasi elektronik lainnya. Yakni sumber daya terbatas.

Verifikasikan Diri Anda


     Abad informasi barangkali telah menemukan ultimatnya pada sebentuk web, dan pengayaan ultimat canggih ini, ternyata merevisi Abad informasi. Setelah diperkenalkannya sebuah piranti bernama "Verifikasi". Di sini yang diverifikasi adalah identitas pengguna web. Mengingat penggunaan verifikasi yang terhitung itu, hanya memberlakukan satu identitas acak. Maka dimungkinkanlah orang memiliki banyak identitas dalam web. Suatu hal yang di dunia nyata, dikategorikan sebagai penyakit sosial sekelas psikopat bernama split personality, berkepribadian ganda, atau disebut dengan nama devian: penipu, sehingga jelas orang tidak ingin melakukannya. Adapun para pengguna web melakukannya, menduplikasi identitas mereka dengan bermacam motif mengikuti kebutuhan dan kecenderungan mereka sendiri, tanpa harus takut dicap tidak tertib, curang, legal atau tidak legal. Mungkinkah terjadi identitas semu dan artifisial dalam internet justru akan menjadi identitas murni dari tubuh sosial (yang dikenali sebagai habitus) yang sebenarnya. Bahwa identitas web lebih parole dari identitas dalam dunia nyata? Ketakutan ini sudah pernah ditanyakan pula oleh Erick P. Bucy dalam Living in The Information Age kembali menambahkan:

     "Saya yakin kehidupan komputer berada dalam masalah. Maksudnya, komputer begitu unggulnya, sampai-sampai semua bergantung padanya. Dari masalah finansial, humanisme, masalah matematika yang berpuluh tahun tidak dapat diselesaikan. Ketergantungan terhadap alat komunikasi yang murah dan sebagainya."

     Sifat ketergantungan adalah 'penyakit' kedua, setelah 'penyakit' melipatgandakan identitas diri. Namun jika sebenarnya ini bukan penyakit. Bukan deviansi, seperti apa yang dijustifikasikan secara simplitis (karena setiap orang harus mengikuti sistem nilai orang kebanyakan seperti saya). Jangan-jangan ini kondisi kodrati yang sebenarnya?

Ruang cyber sebagaimana Barlow@eff.org


     Sepertinya benar bahwa ruang ini bisa menjadi ruang kodrati yang sebenarnya. Karena terdiri dari transaksi, hubungan, dan pikiran itu sendiri, tersusun seperti gelombang berdiri dalam jaringan komunikasi kita. Dunia kita adalah dunia yang bersifat di mana-mana dan tidak ada yang mati dalam jaringan, kecuali tubuh mereka mati. Kematian sendiri bukankah tidak berpikir lagi, jadi selagi Anda login semacam internet, Anda adalah hidup. Barlow membuat manifesto, menurutnya:


     "Kami menciptakan dunia yang semua bisa masuk tanpa hak istimewa atau prasangka diberikan oleh ras, kekuatan ekonomi, kekuatan militer, atau tempat kelahiran. Kami menciptakan dunia di mana siapapun, dimanapun dapat mengekspresikan keyakinannya, tanpa takut dipaksa diam atau tunduk. Konsep hukum dari properti Anda, ekspresi, identitas, gerakan, dan konteks tidak berlaku bagi kami. Mereka semua didasarkan pada materi, dan tidak ada masalah di sini.

     Identitas Anda di nilai tidak memiliki tubuh, sehingga, tidak seperti Anda, mereka tidak dapat memperoleh permintaan dengan paksaan fisik. Segala kepentingan diri, dan kesejahteraan bersama, akan muncul. Identitas dapat didistribusikan di banyak yurisdiksi. Dan ditambahkan oleh pamungkas. Barlow berpendapat:

     "Kita akan menciptakan sebuah peradaban pikiran di ruang cyber ini. Mungkin lebih manusiawi dan lebih adil dari dunia di mana pemerintah Anda berada."
 
     Sebagai penutup, melakukan perubahan kebudayaan merupakan hal yang sulit, namun bukan hal yang tidak mungkin. Selama kita berusaha untuk merubah, maka hal itu pasti dapat terlaksana. Maka bukan hal yang tidak mungkin jika kelak bangsa Indonesia dapat ikut berperan dalam pembentukan kebudayaan baru, yaitu Kebudayaan Cyber.
 
 
Ditulis Oleh :
 
Ichsan Perdana Putra
54413193
 
 

Daftar Pustaka


anneahira.com/cyber.htm